Pertemuan Kedua

Minggu ke dua les bahasa Jepang, setelah minggu kemarin libur karena tanggal merah akhirnya saya belajar lagi bahasa Jepang. Yeay.

Jumat depan saya sudah bisa dengan tenang meninggalkan kantor lebih cepat daripada biasanya karena semua persyaratan untuk izin sudah saya lengkapi, dan seperti minggu sebelumnya saya meninggalkan kantor kurang lebih pukul 16.30, mampir kosan, cuci muka, sedikit pake parfum agar tidak bau keringat soalnya habis jalan kaki, gegoleran sambil nunggu supir ojek online datang.

Sudah hampir 5 menit tuh supir ojek kaga ada kabar atau nanya lokasi tapi saya lihat di peta malah makin menjauh, saya coba telepon lalu supirnya malah bilang gini "malas puter balik mas" lah ya cancel dong jadi saya gak perlu nunggu. Saya mesen lagi sambil harap-harap cemas karena langit mulai gelap dan takut keburu hujan, tidak lucu masuk kelas basah kuyup kan?

Setelah nunggu cukup lama dapat dengan jarak yang tidak terlalu jauh, tanpa basa-basi saat ojeknya datang langsung saja cabut ke lokasi, sialnya kami ketika sampai perempatan selalu kena lampu merah.

Saya sampai di tempat les pukul 17.48 dan sudah mulai rintik-rintik gerimis, sekitar pukul 17.50 saya dan teman naik ke atas untuk masuk kelas, di dalam sudah ada 3 orang, 2 orang laki-laki dan satu perempuan, yang satu duduk di barisan pertama di sebelah kiri, yang satu di barisan pertama sebelah kanan, dan yang wanita di belakang pria yang di sebelah kanan.

Saya duduk di tempat minggu lalu, di tengah baris pertama. Agak kurang pas karena cuaca dingin dan ternyata ac tepat di belakang, leher kena semprot ac lumayan ternyata. Tidak lama berselang beberapa orang datang, dan mungkin karena hujan jumlah siswa yang hadir menurun dari minggu lalu.

Minggu kedua dimulai dengan sensei nya menulis beberapa huruf dalam romaji (alphabet) dan menyuruh salah satu siswa untuk menuliskan huruf hiragananya. Selanjutnya semua siswa ditanya percakapan pelajaran minggu sebelumnya secara acak, ada yang dimulai dari selamat pagi, ada yang dimulai dari ucapan lama tidak bertemu, dan seterusnya sampai semua siswa kebagian. Masuk materi pertemuan kedua.

Pertemuan kedua adalah lanjut mengenal huruf hiragana, jika kemarin dimulai dari A (あ), I( い ), U(う), E(え), O( お ) dan Ka(か), Ki(き), Ku(く), Ke(け), Ko(こ). Pertemuan kali ini ditambah dengan Sa(さ), Shi (し), Su (す), Se (せ), So (そ ) dan Ta (た), Chi (ち), Tsu (つ), Te (て), To (と). Selain melafalkan kamipun menulis ulang masih-masing huruf.

Materi minggu ini diawali oleh "koma", contoh dari buku sih seperti ini:

Watashi wa Rita desu ( Saya Rita ) Watashi wa Indoneshia-jin desu ( Saya orang Indonesia)

Bisa disingkat menjadi

Watashi wa Rita de, Indoneshi-jin desu. ( Saya Rita, orang Indonesia )

Setelah mengulang beberapa contoh kami lanjut ke materi bentuk negatif atau penyangkalan yaitu : Dewa/Ja Arimasen atau Dearimasen

Setelah belajar kalimat negatif atau penyangkalan kami dilanjut dengan materi kalimat lampau yang menyatakan "bekas", "mantan", dan atau "eks", kalimat ini ditandai dengan deshita atau dewa/ja arimasen deshita.

Anime, Drama, dan Iklan

Emang bahas tiga hal itu? O tentu tidak, tiga hal itu sebenanrnya yang saya alami sendiri.

Bagi kalian yang gemar nonton anime atau drama tentu tidak asing dengan iklan sponsor di tengah-tengah acara kan? Bukan iklan yang mirip di acara tivi lokal tapi yang cuma tulisan suara itu loh, yang kalo sekilas saya dengar kalimatnya seperti ini "Kono Band Gummy Wa, .... Sponsor no.....".

Ada beberapa siswi saat disuruh membaca yang suaaranya otomatis mengingatkan saya kepada kalimat itu, heran saya juga.

Selanjutnya kami dikasih tahu salah satu bahasa Jepang untuk menjawab "bukan" yaitu "Chigaimasu". Saat mendengar kalimat itu saya langsung ingat salah satu adegan drama yang diperankan Tsubasa Honda. Adegannya kurang lebih Tsubasa Honda sedang ngobrol lalu tiba-tiba beliau menjawab "Chigaimasu" berkali-kali, ya Rabb lucu sumpah.

Sedangkan kalimat yang mengingatkan saya kepada anime adalah "Soo desu ka" saya langsung ingat anime Goblin Slayer yang karakter utamanya kalau diajak ngobrol cuma jawab "Sooka".

Terakhir sebelum pulang di buku pegangan kami ternyata ada tugas menerjemahkan bahasa Indonesia ke bahasa Jepang, lalu mbak yang duduk di sebelah saya nanya "ini tuh PR nya ya?" Waduh, dah lama saya gak mendengar dan mendapatkan PR.