ngaBandungan

Akhirnya setelah sekian lama tidak ke Bandung kesampaian juga mengunjungi kota kelahiran. Walaupun memang secara administratif saya bukan lagi orang Bandung tapi tetep kepada siapapun saya selalu mengaku sebagai orang Bandung, ya gimana ya saya dan Bandung tuh semacam love hate relationship, kata orang hade goreng kota sorangan, (bagus jeleknya kota sendiri) tapi mun goreng wae mah jangar oge.
Jadi dalam tulisan saya ini mau bahas tentang Bandung dari dua sisi, anu goreng sekalian dengan yang hade.

Nu goreng.

Saya ke Bandung dengan menggunakan kereta api Argo Parahyangan yang gosipnya akan dihentikan ketika kereta cepat Jakarta - Padalarang mulai beroperasi, for your fyi inimah nya, Padalarang ka Bandung kota teh jauh juragan!

Setibanya di kota ini saya memutuskan menggunakan gocar, karena saya kemari bersama anak yang masih bayi dan ke rumah juga perlu beberapa kali naik angkot biar cepat ya gocar, eh ternyata langsung terjebak macet, satu-satunya yang disyukuri dari macet sepertinya adalah pecahnya telur pokemon go karena dianggap berjalan kaki.

Lalu terkait fasilitas lainnya saat malam hari haduh haduh haduh mulai dari lampu jalanan yang gak konsisten nyala alias mati-mati-mati-nyala-mati-mati alias poek ajig ih caang teh mun aya mobil ngaliwat. Trotoar cukup luas dan emang seharusnya dengan ukuran yang luas itu banyak lahan kosong untuk pejalan kaki, tapi sial, beberapa orang bermobil lebih cekatan dalam melihat lapak kosong untuk mobilnya, bisa saingan dengan gerai es lah lihai melihat lapak kosongnya. Udah gitu trotoarnya? Oh tentu tidak, sisa dari mobil kami pejalan kaki masih haru berbagi dengan sisa galian kabel.

Bandung diciptakan saat Tuhan sedang tersenyum katanya, mungkin iya saat daerah Braga, Dago, dan wisata lainnya tapi ketika sampai pemukiman sepertinya diciptakan ketika sedang senyum ketus, jamedud ceuk orang Sundamah.

Mari cukupi nu garoreng terkait Bandung mari beralih kebagian yang bagus-bagus yaitu: Makanan.

Hari Pertama

Setiba di kota Bandung kami mampir dulu ke restoran BBQ Mountain Boys di Paskal. Kami memesan dua buah burger sweet fire dan double cheese burger, lalu french fries, satu cola dan satu air mineral total yang dihabiskan sekitar 200.000 Sweet fire burger: Harga sekitar 70.000 tipe-tipe burger yang kusuka, ada isian crunchy di dalamnya. Jadi cukup wajar diberi harga segitu.

Double cheese burger: Harganya 60.000-an rasanya sih cukup enak tapi tidak spesial, istri memesan ini tapi yang dia habiskan burger satunya lagi.

Cheese fries: Harganya 30.000-an kentang dibaluri keju dan ada jalapeno pickles, menurut saya ini yang paling kurang dari rasa.

Setelah makan burger akhirnya tiba di rumah lalu disambut dengan sayur kangkung, nasi putih, ikan tongkol, dan juga sambel. Nikmat!

Malamnya kami mampir membeli 2 buah sekoteng dan satu bungkus bola obi untuk menutup kegiatan hari pertama di Bandung.

Hari kedua

Dimulai dengan sarapan surabi telor oncom sebagai fondasi, kami menjalani rencana hari kedua dengan jalan pagi menuju jalan veteran kesebuah warung kopi yang ternyata setibanya di sana masih tutup dan baru sejam lagi baru buka.

Nuhun 4000 langkah yang sudah dilalui.

Kami memutar sebentar dan istirahat sambil jajan cakwe mini, harganya 5000 saja dan rasanya segitu aja. Setelah cukup beristirahat kami melanjutkan jalan kaki kembali ke warung kopi Kozi Veteran. Berhubung menu paginya tidak ada yang kami rasa menarik akhirnya kami memutuskan hanya membeli minum

Kosangsu: Kopi Pisang Susu, rasanya manis tapi bukan manis gula gitu dan ada rasa pisang yang sangat terasa, cukup enak bahkan istri saya yang tidak terlalu suka kopi bilang ini enak

Triple kill: Minuman campur 3 rasa buah kayanya, rasanya asem seger tapi kayanya kurang cocok di pagi hari.

Selepas dari Kozi kami pulang ke rumah tapi sebelumnya mampir dulu ke Lomie Ayam Karamat cabang Cibadak. Kami memesan yang porsi medium harganya 20.000. Bagi yang belum tahu lomie sebenarnya ini ya kaya mie pada umumnya tapi yang paling membedakan itu dari kuahnya yang kental dan biasanya juga dikasih toping kangkung

Pertama, bagi saya ini adalah lomie kedua dalam hidup, dulu pernah coba tapi langsung tidak suka karena waktu itu  rasanya berasa tidak cocok satu dan lainnya, lalu bagaimana dengan yang ini? Dari segi rasa defaultnya cenderung manis dan ada sedikit asam kaya perasan jeruk dicampur dengan mie dan sayurnya cocok, tapi saat saya menambahkan sambal rasanya justru makin enak! Manis, asam, dan pedasnya nyambung sungguh berbeda dengan pengalaman pertama saya.

Makan siang kami bergeser ke area Sukajadi untuk makan di  Sawargi Savory, tahu tempat ini karena ternyata pemiliknya adalah teman satu kantor istri jadi mari coba saja. Kami memesan:

  • 2 Rice Bowl Paru,
  • Ice Capucino, dan juga es teh leci.

Nasi paru: Parunya enak kriuk crunchy tapi bagi saya yang menonjol justru ada di sayurnya yaitu daun ubi.

Kopi dan es teh lecinya ya sama sih dengan di kafe resto lain tapi perlu diapresiasi es teh lecinya memang ditambahkan leci, untuk hal ini saya cukup perhatian dikarenakan dulu di suatu kafe mesen es teh leci yang datang es teh perasa leci tanpa leci, bedebah memang!

Dari sini kami melipit ke Cuankie Serayu untuk ngemil dan memesan satu porsi cuankie, satu porsi batagor, dan dua teh botol.

Cuankie: Rasanya emang cuankie Bandung banget lah beneran mengobati kerinduan rasa cuankie. beda banget dengan beberapa cuankie di Jakarta atau Bekasi dan atau di dalam kereta yang lebih mirip kuah bening pake aci-acian rebus.

Batagor: Jujur dengan antri yang panjang banget rasa batagornya tidak istimewa, lebih enak batagor dari kang baso tahu ( fyi di Bandung kang somay disebutnya baso tahu ya) yang nongkrong deket rumah.

Harga baik batagor atau cuankie sama-sama 20.000 untuk seporsi dan 12.000 untuk setengah porsi.

Sore hari kami melipir ke tempat baru yang virallll yaitu toko tahilalat, kami membeli 1 paket yang berisi: hotdog, french fries, cola, dan eskrim.

Jujur aja ya bagi saya yang enak es krimnya saja, bagi lidah saya daging di hotdognya terlalu manis, keju di kentangnya terlalu over jadi kaya mesen keju dikentangin.

Kembali kami menutup hari dengan ronde jahe, sekoteng, dan ceker ayam. Berhubung saya tak suka ceker ayam jadi gak bisa saya deskripsikan.

Hari ketiga.

Sarapan hari ketiga sedikit menjauh ke jalan riau, kami mengunjungi sebuah waroeng yang bisa dibilang spesialisasinya di croissant namanya waroeng snoepen.

Waroeng Snoepen Sebenernya jarak jika menggunakan kendaraan gak jauh sih cuma kemarin ngide aja pake jalan kaki, dari rumah sampai lokasi menghabiskan lebih 7 ribu langkah!!

Gak bisa banyak komentar karena pengalaman makan croissant paling ketika ke warung kopi atau gerai donat untuk menemani kopinya dan menurut saya di dua tempat seperti tadi ya biasa aja jadi ndak ada ekspektasi apapun.

Saya memesan yang plain dan istri memesan yang isi daging dan keju dan setelah dicoba

Plain: Gak plain enak ini, bagian luarnya crunchy, dalamnya enak makan tanpa kopi pun oke

Croissant Isi: mengutip langsung review istri saya "gak expected tapi langsung jatuh cinta ama rasanya"

Intinya kalau mau jajan cantik bisa ke sini, tempatnya mirip foodcourt jadi bisa makan croissant dan minumnya beli di toko lain.

Makan siang sekarang gak cuma berdua, kami membawa sekeluarga ke Hotel Malaka untuk makan di kafe/resto nya. Saya dan istri sama-sama memesan steak, yang lainnya beragam ada daging ayam, pasta, sup buntut, hotplate sapi, ice cream, dan beberapa cemilan.

Dari segi harga  dan rasa sepadan lah, porsi steaknya memang biasa saja tapi menurut saya saus mushroom-nya enak. Untuk lokasi ini bisa dibilang ramah anak, ada maenan perosotan dan taman rumput yang mayan luas.

Hari keempat.

Untuk pagi hari tidak sarapan yang aneh-aneh hanya kupat tahu pinggir jalan namun siangnya kami melipir ke imah babaturan.

Sebenarnya ini kali ketiga saya kesini, dulu bersama teman dan suasananya nyantai tapi ternyata sekarang berubah, datang kesana kami harus WL dan mengantri cukup lama.

Untuk imah babaturan ini saya bisa bilang seperti ini:

Rasa dan harga sepadan enak, porsinya pas tidak sedikit dan tidak banyak, dapat gratis kerupuk, akses pun cukup mudah. Tapi..... saya akan berpikir ulang jika diajak kesini selama pengaturan waktu untuk WL atau antriannya seperti saat saya datang, agak bete sih udah nyatet nama tapi tetep aja diloncat ama orang lain, sayang emang padahal rasanya cukup enak, tapi jadi males karena mengatur antriannya nganu... apalagi kalau bawa orang tua mending pikir ulang.

Sorenya kami coba lanjut makan di iga bakar si jangkung, request dari nyonya dan sialnya kami sepakat bahwa rasanya: biasa saja.

Oke sekian perjalanan saya di Bandung ada beberapa yang sempat dipikirkan tapi tidak kesampaian di antaranya:

  • mie bakso akung
  • mie bakso gagak
  • kopi purnama
  • dll

Semoga nanti bisa ngaBandungan part seanjutnya dengan variasi makanan yang berbeda.

Hatur nuhun Bandung, sing gera cageur lah meh teu rudet.