Hari Pertama Memulai Les

Entah apa yang terjadi, mungkin jiwa wibu saya tiba-tiba mengambil alih pkiran lalu langsung muncul ide “belajar bahasa Jepang menarik sepertinya?”

Tanggal 2 kemarin saya dengan teman mengunjungi Evergreen salah satu tempat les yang sebelumnya sudah dicari tahu melalui google. Sesampai di sana kami nanya-nanya lalu mendapat beberapa informasi

  1. Jadwal les ada 3 hari, Kamis, Jumat dan Sabtu
  2. Biaya les selama 4 bulan 2,1 juta ( termasuk biaya les, daftar, dan buku )
  3. Hari Sabtu sudah penuh, jadwal tersisa Kamis dan Jumat

Karena pada saat itu tidak bawa duit, akhirnya setelah ngobrol-ngobrol dengan bapak penjaganya kamipun pulang dengan membawa kerta informasi dan no rekening yang jika hendak ikutan tinggal transfer ke rekening tersebut.

Karena sudah niat, besoknya kami langsung transfer dan mengambil kelas hari Jumat, ngambil Jumat pukul 18.00 – 21.00.Jumat karena pikir saya besoknya libur, kalau kamis besoknya masih harus gawe.

Hari Pertama

Kelas pertama tanggal 12 April 2019 pukul 18.00, saya izin pulang cepat dari kantor, izin pulang 16.30 lalu melipir dulu ke kosan untuk mengganti tas dan sedikit menyemprotkan parfum, kasihan nanti yang duduk sebelah saya ( kalau ada ) kena bau keringat mengingat saya jalan kaki dari kantor menuju kosan.

Saya berangkat pukul 17.05 menggunakan transportasi ojek online dan sampai lokasi pukul 17.30an. Di perjalanan saya hampir tabrakan, bukan karena supir ojeknya tapi supir angkot yang tiba-tiba masuk ke jalur yang sama alias lawan arah, beruntung jalanan cukup padat sehingga angkot tidak terlalu ngebut. Akibatnya sumpah serapah muncul dari mulut supir ojek kepada supir angkot.

Saat datang tiba-tiba saja diajak ngobrol oleh calon siswa, dia agak ragu untuk ikut les dengan durasi 3jam perhari dan 1 kali pertemuan tiap minggu, ngobrol ngalor ngidul dan ya dia mengaku ingin belajar bahasa Jepang karena suka Anime dan Manga. Wow aku terkejut. Terus dia pulang gitu aja dan kamipun masuk untuk mendapatkan 3 buah buku, satu kartu peserta dan satu kartu nama.

Di dalam sudah ada sekitar 3 orang, cewe yang duduk di belakang meja dengan kacamata dan masker, seorang siswa SMA ( asumsi saya karena melihat dia menggunakan baju koko dan celana abu), seorang mahasiswa mungkin ( melihat dari jaketnya ) lalu kamipun nunggu di luar karena di dalam sudah penuh.

Pukul 18.00 kami disuruh naik ke lantai 2 untuk masuk kelas.

Sesi 1.

Di dalam cuma ada beberapa orang saja, sepi kali pikir saya, ada beberapa kursi dan meja, satu meja dua kursi, tapi dengan keadaan kemarin setiap orang akhirnya duduk sendiri-sendiri. Saya sendiri memilih duduk di meja terdepan, di tengah, biar jelas aja sih.

Biasalah awal-awal mengenalkan diri dalam bahasa jepang “Watashi wa Aries desu” lalu ke samping dan ke belakang sampai semua orang kebagian. Ternyata banyak orang yang telat, ngerti sih hari Jumat sore jalanan Jakarta memang menyebalkan.

Awalnya saya menyimpan tas di kursi sebelah toh sendiri ini tapi melihat ada yang telat saya turunkan tas saya ke bawah, ya kali-kali aja ya ada yang mau duduk di sebelah saya misalnya. Tapi ternyata siapa pula yang mau duduk dengan saya, orang-orang memilih duduk di kursi belakang atau cukup di baris kedua.

Dengan asumsi orang malas duduk di depan saya naikan lagi tas ke kursi sebelah saya, belum lama naik, itu tas sudah harus diturunkan kembali, pasalnya ada mbak-mbak yang nanya “ini kosong mas?” Ya saya jawab kosong lalu si mbak itu duduk di situ ( mau nulis si mbaknya tapi ko nganu ).

Awal-awal kami diajari beberapa hal diantaranya:

  1. Huruf Hiragana dan bunyinya
  2. Intonasi
  3. Menulis 10 huruf Hiragana
  4. Setelah itu istirahat 10 menit untuk minum atau ke toilet.

Sesi berikutnya kami mengulang sekilas yang diajarkan sebelum istirahat dan memulai tentang topik partikel dalam bahasa Jepang.

Ternyata waktu menunjukan pukul 21.00 dan kelas dibubarkan, anjir ko berasa cepet? Ini antara materinya yang dipadatkan atau keasikan belajar ( mungkin asik karena pertama dan semoga tetap asik ).

Yaudah akhirnya kami pulang dan langsung kepikiran mesti beli buku kotak-kotak untuk melancarkan menulis huruf, sudah lama tidak nulis tanganku pegal dan hasilnya buruk sekali. Mesti sering dilatih ini.